Tampilkan postingan dengan label seledri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seledri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 April 2012

Ada Apa di Kebun 2

Sudah lama nih belum mengupdate blog, lumayan sibuk dengan pekerjaan sehingga terbengkalai blognya. Tahun ini banyak sekali teman-teman berkebun berbagi benih tanaman selain tomat kepada saya. Beberapa diantaranya saya coba tanam, tentu saja di pot. Habis di mana lagi kalau tidak di pot soalnya tidak punya pekarangan. 

Musim hujan sedang gencar di sini tiap sore pasti hujan sehingga semua tanaman ini ditaruh di beranda agar tidak terkena hujan. Makanya agak kurus karena tidak mendapat sinar matahari langsung. Mudah-mudahan musim hujan cepat berlalu. 

Foto dibawah ini adalah Oregano Greek yang disemai dari benih, lumayan senang sewaktu tumbuh cuman masa germinasi agak lama. Dibutuhkan sekitar dua minggu baru mulai tumbuh, jadi mesti sabar ya... Herb ini biasanya dibutuhkan kalau membuat makanan Italia seperti Spageti. Cocok untuk campuran masakan daging, ikan dan seafood. 


Ini bukan kailan lho, ini kembang kol yang masih kecil walau bentuknya agak mirip. Harusnya mungkin lebih besar tapi karena pengaruh hidup di pot dan jarang terkena sinar matahari penuh jadinya agak kecil. Kita liat aja nanti apakah bisa panen, namanya juga lagi belajar.



Di entri sebelumnya juga sudah ada seledri yang membedakannya seledri ini ditanam  dari benih kalau yang sebelumnya dari bonggol seledri pasar. Ini juga termasuk jenis seledri besar namanya seledri Utah (Celery Utah) mudah-mudahan nanti hasil panennya sebesar yang diharapkan.



Tanaman ini namanya Fig alias Ara alias Tin pemberian seorang teman, jadi bukan dari benih melainkan stek batang. Tadinya tidak berminat menanam tanaman besar tapi katanya tidak akan terlalu besar dan bisa ditanam di pot. Mungkin nantinya akan dipindah ke pot yang lebih besar. Katanya selain buah yang sudah matang enak dimakan, buah yang muda bisa disayur.


Murbey ini bagian dari kenangan masa kecil dulu, sewaktu Bandung pembangunannya belum sepesat sekarang, pohon murbey ada di pinggir jalan di SD saya. Kalau lagi berbuah rajin metikin buahnya sambil berjalan pulang. Sekarang sih sudah tidak ada, makanya agak bersemangat ketika ada penjual tanaman ini walau harus memangkunya sepanjang jalan dan menjadi pusat perhatian. Sering juga menyebut buah ungunya sebagai blackberry. Yang merah asem tapi yang ungu manis.


Tanaman di atas yang sudah tumbuh, sekarang lagi menyemai cabe dan tomat sambil menunggu musim hujan berlalu. Nanti aku update lagi deh tanamannya kalau sudah lebih besar. 

Minggu, 12 Juni 2011

Ada Apa di Kebun

Sudah lama gak posting gambar kebun atapku. Mumpung ada waktu aku posting foto-foto lamanya. Gak ada yang spesial soalnya tempatnya sempit jadi harus diatur-atur supaya muat. Biasalah kalau baru berkebun semuanya ingin ditanam tapi tempat terbatas. Tempatku ini ukurannya cuma 1 x 2 meter jadi sempit banget.

Lagi dapet spot bagus buat ngeliat kebunnya.
Ini tanaman markisa medan yang buahnya ungu, buahnya oleh-oleh dari saudara, bijinya dicoba di tanam ternyata tumbuh. Kita lihat saja apakah tanaman cantik ini akan berbuah, ternyata pucuknya bisa dikonsumsi walaupun rasanya agak pahit tapi bisa diterima lidahku yang manja ini. Jadi kalau akhirnya tidak berbuah bisa jadi sumber sayuran baru. 

Markisa Medan
Ini dia tanaman seledri yang lagi banyak ditanam tapi sekarang sudah habis soalnya rajin dikonsumsi sama bapakku yang lagi kena darah tinggi dan ada yang bilang ini ampuh buah menurunkan darah tinggi. Jadi tiap hari makan ini entah itu dilalap atau direbus untuk diminum airnya. Jadi kalau punya darah tinggi rajin-rajin ya makan si hijau ini. Seledri ini jenis seledri besar bukan yang jenis buat sayur sop, dulu pernah beli di punclut satu ikat, daunnya dimakan batang bawah dan akarnya ditanam. 

Seledri
Pohon jeruk purut dibawah ini penghuni tetap di kebunku. Pohon jeruk purut ini ditanam bukan demi buahnya tapi untuk daunnya yang super harum itu. Apalagi makanan di rumahku sering sekali membutuhkan ini apalagi untuk memasak ikan yang anyir daun jeruk ini harus ada. Karena di pasar enggak selalu ada dan daun jeruk biasa aromanya kurang mantap maka bapakku memutuskan menanamnya. Menurut saya sebuah keputusan yang sangat bijaksana karena selain bisa panen daunnya setiap saat kadang-kadang ada buahnya juga. Daun jeruk ini kira-kira sudah berumur 10 tahun tapi tetap kecil mungkin karena ditanam di pot.

Jeruk purut
Caisim alias Sosin. Orang Bandung menyebutnya sosin tapi dikenal dengan nama caisim, bapak saya menyebutnya dengan sayur manis. Ini juga lumayan menyenangkan menanamnya karena cepat besar yang berarti cepat juga panennya. Ini juga sudah tidak ada alias sudah di panen, bisa lebih panjang masa panennya kalau yang dipetik hanya daunnya yang sudah besar dan jangan dicabut dengan akarnya seperti yang saya lalukan. Biasanya kalau ingin makan indomie tinggal keatas petik sebatang, cuci, potong dan cemplungin ke indomienya. Selain itu biasanya ditumis dengan saus tiram dan tahu.

Caisim
Ini si bayam  merah, ditanam sendiri karena di pasar jarang ada, dan kami sekeluarga terlanjur suka. Sebenarnya ini termasuk bayam cabut tapi biasanya di ambil pucuknya saja dan biarkan agar bertunas lagi untuk konsumsi selanjutnya. Kalau mau di buat keripik bayam biasanya daunnya dibiarkan agak besar lalu dipetik, keripik bayamnya jadi unik karena berwarna merah.

Bayam merah
Semua tanaman di pot ini berguna dan menyenangkan apalagi ketika menikmati hasilnya. Aku bersyukur bisa mengenal dunia berkebun ini, walaupun cuma bisa menanam di pot. Bisa dapat sayur gratis dan atapku enggak gersang lagi, kalau sore-sore nongkrong di sana sambil kerja atau minum teh. Apalagi kalau kerjaan bikin jenuh bisa ngeliatin tanaman sebentar, kalau sudah semangat lagi, lanjut kerjanya. Gardening is good stress relieve.